Postingan

Menampilkan postingan dengan label @beny_anpriska_nata

Bumi dan langit

Langit biru  andai kau tau, Aku bagaikan bumi, tersenyum memandangmu. Meski engkau riang dengan awan putih, Meski sang surya yang selalu menemani. Teranyu mungkin melandai, Karena asa ku tak mungkin terjadi. Meminta langit biru menatap balik pandangan itu. Engkau tau, Kamu di ciptakan sebagai pelengkapku. Tetapi kebersamaan kita di antara ambang jarak. Aku masih mengagumi mu, Walaupun kadang engkau menampakan langit gelap mu.

Nasehat Bertua

Ucapan kata-kata rujukan, Terngiang dan terbayang. Masa demi masa, Ia tetap hidup dan di jaga. Pusaka keluarga. Turun-menurun bagaikan tahta. Sederhana, Tapi bermakna. Kadang berbingkis lecutan, Kadang berdinding kecaman. Perih juga pedih. Namun, bukan untuk perusak diri. NASEHAT BERTUA, Itulah dia. Ucapan dari seorang yang tua rentah. Tersirat dan bertepi, Hingga, mengendap dan merasuk ke hati. Berulang-ulang, Ia katakan. Lihatlah masa kehidupan nanti, Jangan goyah dan terlena akan hari ini. Pikirkan hari esok dan nanti, Jangan terbelenggu dengan hari yang tak berarti. Apa yang kamu kerjakan kini. Akan mencerminkan masa depan mu nanti.

Teriakan Di antara Peluru

Terik matahari di atas ubun-ubun,  Peluru terbang bagaikan layang-layang. Terdampar tubuh, Berserakan darah, Jeritan tangis, Memecah letusan meriam yang mengelegar dengan bengis. Tangisan tegar dan kuat, Beranjak dengan tegap. Mengenggam bambu rucing, Menghunuskan kejantung penjahat kemanusiaan. Bergelora dan berkobar semangat di dada. Dengan lantang suara diteriakan. Maju, ... Serang, ... ALLAHU AKBAR, Allahu akbar Allahu akbar .. Allahu akbar. Merdeka, merdeka, merdeka.

Untuk mu Indonesia ku

Apa yang bisa aku beri,? Untuk membalas budi jasa Pahlawan negeri? Apa yang bisa aku beri,? Agar bisa membanggakan bumi pertiwi? Seongok prestasi, Mungkin tak sebanding dengan pengorbanan mu Pahlawan Negeri. Berlimpah ruah harta, Mungkin tak sebanding denga pengorbanan mu yang pertaruhkan nyawa.  Harta kekayaan engkau korbankan, Sanak saudara dan keluarga engkau tak perdulikan, Bahkan jiwa, batin dan badan engkau taruhkan. Untukmu Indonesiaku Untukmu Pahlawanku Maafkan kami, pemuda-pemudi bangsa ini. Kami tak mampu membalas budi. Hanya, Sederet prestasi kecil yang bisa kami saji dan beri. Bahkan hanya sikap mencintaimu, Pahlawan Negeri.

Apakah itu Romantis?

Romantis. Aku tak tau perihal itu. Jagankan untuk romantis,  menggaji maknanya pun aku tak tau. Apakah romantis itu, di ibaratkan setangkai mawar merah? Apakah romantis itu, di ibaratkan memampang badan agar ia tak di henuskan pedang yang tajam. Apakah romantis itu, seperti mendaki gunung dan menyeberang samudera untk orang yang di cinta. Entahlah. Aku tak tau, Karena aku sendiri, Mungkin tak mampu untuk bertempur melawan kata-kata ibaratitu.

Kekasihku

Jika nanti,  aku tak mampu berucap kata cinta. Yakinlah rasa ku tak akan enyah. Jika nanti, Diriku tak mampu menjagamu. Yakinlah perasaan kalbuku selalu mendekapmu. Maafkan aku. Apabila diriku tak penuhi janjiku, untuk selalu bersama mu dan menjaga mu. Maafkan aku. Apabila aku pergi tanpa mau ku, Karena aku tak bisa menepiskan takdirku. Aku berucap itu. Bukan berarti akan menjauhi mu, Bukan berarti pergi dan melepaskan mu. Akan tetapi, Karena ajal yang ditentu, Tak dapat aku tau kapan menjemput ku. Untukmu, kekasihku. Apabila sang izroil datang menghampiriku, Jangag menangis dan meratapi ke pergian ku. Aku tak mau, Cucuran air mata mu jatuh karena diri ku. Kau tau, Bahwa aku sangat mencintaimu, Aku tak ingin dan Tak akan ku biarkan setetes air mata jatuh membasahi pipi manismu. Di Istana Surga aku akan menantimu. Sayangku.

Dunia baru

Terlelap ku dalam negeri mimpi, terbangunkan ku ketika senja pagi. Tersenyum ku masih bisa menghirup udara di dunia ini. Lantas, apakah aku  mampu melawan fitnah dunia hari ini?

Sang Pengejaran Impian

Ia melangkah dengan harapan, Meniti jejak, menelusuri cita-cita kehidupan. Ribuan buku ia pikulkan, Ribuan tinta pena ia habiskan. Namun. Impian tak kunjung ditemukan, Cita-cita tak jua di dapatkan. Seingga , Putus asa menghasut diri, Berbisik lelah dan letih, Mengadu domba diri untuk menyerah dan berhenti. Akn tetapi, Semangat gelora yang tertanam dijiwa sejak lama, Berkobar serta meruntuhkan segalanya. Karena ia sang pengejar impian dan cita-cita. Tak mengenal putus asa, Tak mengenal lelah, Bahkan tak tau dan tak akan tau yang bernamakan menyerah.

Isi Buku Catatan Harian ku

Coretan ku dalam buku harianku. Menari dengan indah penaku, ketika tawa bahagia menghampiri ku di saat itu. Namun, Kadangkala tangisan  membasahi buku, dikala sedih meratapi dan merangkul kehidupanku. Itulah coretan isi buku harianku, Tak dapak ku elak kan  dan ku tepiskan. Ragam kehidupan bagaikan cuaca alam yang tak bisa di tentukan. Awan terang kadang diguyurkan hujan, Gelap kabut kadang tak menurunkan hujan. Segalanya tak terpikirkan. Kesedihan dan kebahagian. Terus berkecibung, mengendap dan menetap di buku harian. Tertulis panjang kata-kata sedih, memenuhi halaman  buku ku setiap hari. Terulis panjang jua kata-kata bahagia. meraja di setiap halaman yang ku catat dengan pena. Isi catatan buku harianku, Bermacam-macam peristiwa hariku.

Pembunuh Ruang Bahagia

Perhatian telah gugur, Kasih sayang seakan-akan luntur, Berlahan-lahan menggerogoti cinta, merasuk akal yang berkeinginan tidak mau jauh darinya. Selalu dan selalu. Ia dihadirkan diantara ruang celotehan, Ia di jadikan pusat pandangan diantara ruang bercerita. Memalingkan perhatian, Virus yang  menggotori sapaan, Canda yang seharusnya berujung lepas tawa, Kini hanya tawa hampa belaka. Singkat ketawanya, Panjang kesunyiannya. Kini, Ada dia di antara kita dan orang di cinta. Menjadi monster dan pemusnah ruang temu bahagia yang beralaskan cinta. Ia penjahat ruang pertemuan untuk bercerita. Ia adalah gadget, Pembunuh ruang bahagia . Beny Anfriska nata Pembunuh ruang bahagia

Ia Adalah Sang Hujan

Ratapan tangis sang langit, Pengharapan bumi yang gersangnya melejit. Tetesan lembut beralirkan kasih, Tertetes  dengan sendu menampaki bumi, Riang gemira di sapa oleh sang dahaga. Gersang, berdebu, mati tanpa tertimpa basah. Turunnya ia bagaikan anugerah yang paling berharga, Melebihi intan permata, Melebihi berbongka emas permata para raja, Melebihi berlian yang gemilang pancaran sinarnya menelenakan mata. Karena ia salah satu sumber kehidupuan manusia. Ia adalah sang "hujan"  selalu di harap dan di nanti oleh sang bumi, nafas di kala gersang dan kemarau melandai bumi .

Undangan dari Kesunyian

Ruang hampa, Berkecibung dengan kesibukan . Tiada celotehan yang terucapkan, Bahkan mata itu pun saling memalingkan. Gadget yang selalu di tatapkan. Apakah engkau tak ada cerita, teman? Apakah perkumpulan ini hanya untuk kesunyian? Apakah engkau tak rindu suasana hiruk pikuk celotehan kita dulu? Ya. Saya rasa itu telah musnah. Kini, Pertemuan itu hanya undangan dari kesunyian. Ramai tapi sepi. Ramai tapi sunyi. Itu suasana perkumpulan teman ku kini. Beni Anfriska Nata Undangan dari kesunyian