Postingan

Berharap dia datang, tapi...

Tertanggal 30 Oktober 2019 Aku sedikit bahagia dengan toga di kepalaku Cuma Yang ku nanti Tiada kunjung menemui Yang ku harapkan datang Tiada kunjung ku temukan Saat itu gelisah rasa ku Hati ku memang terpaut dan tertanam satu nama dalam relungnya Karena saat itu Aku berpikir Mungkin aku terlalu meminta dan berharap dengannya Sedangkan ia, mungkin tiada terlalu peduli atau mengabaikannya Sempat mendapat chatnya Hati ku gembira Cuma keadaan ku yang memaksa mematikan ruang obrolan Hp lowbat-mati Dan ku kira ia datang ditempat yang sengaja aku tunjukkan Ternyata tidak Sedih Bukan karena kecewa Tetapi pengharapan yang tak kunjung nyata Aku mencoba meluapkan rasa dengan mengabaikannya Karena tak ingin rasa besar itu, pupus begitu saja. Pikiran ku selalu berpikir minder, untuk bertahan dan berjuang dengan rasa tanpa balasan Tiada jelasnya Tiada tau jawabannya Tiada tau rasanya Tapi perasaan terlalu mengikat batin Perasaan dan keyakinan hati Ia selalu...

Right here waiting for you

Genggam hati ku Waktu seakan tak menunggu Sungguh aku tak bisa melawan itu Cinta ku dan rasa ku Menanti hal terberat dalam pundak ku Menunggu hal paling beban dalam punggung ku Karena kamu telah terlihat menginginkannya Harapan mata mu tertuju kepada matanya Harapan peluk mu tertuju dalam pelukannya Engkau bercerita itu Dan hati ku tetap tersenyum Karena cinta siap menerima apa yang terjadi terhadap rasa Dan mungkin mustahil tentang angan ku Kamu adalah penantian ku Sedikit lirik rasa mu bahagia ku Ruang dan waktu sekarang bukan untuk ku Believe to me I will right here waiting for you To say " i love you too"

Ketentuan-Nya Pasti

Mana bisa Akal menerka kehidupan di depan Mana bisa Menepatkan terkaan menjadi keutamaan Seringkali Asa berpikir mendahului-Nya Bukankah ketentuan-Nya yang pasti Maka berdoalah, Ikhtiarlah dan Serahkan semua kepada-Nya Jangan hanya ber-asa Hingga nanti kamu terlarut dalam harapan Tetapi mengadahkanlah tangan untuk berdoa Hingga nanti ketenangan pikiran dan batin merasa dekat kepadanya Manusia hanya bisa berencana Ketentuan yang pasti hanya milik-Nya

Senandung Rindu

kian malam hembusan angin semakin terasa sepi dan sunyi bersenandung hening juga meraja khayalan mendekap pikiran Imajinasi merangkul akal malam memang begitu indah untuk berkhayal meluapkan rasa dan menapikannya cuma, hanya sebatas angan. sama seperti rindu. rindu kepadanya yang tersirat dalam doa. rindu. sebuah kata yang bersenandung indah. terlebih lagi sangat merasuk jiwa, saat berirama dengan sunyi dan sepi. Palembang, 17 Oktober 2019 pukul  23:25 wib

Pesan ku untuk mu teman-teman ku

Pesan ku untuk mu teman-teman Untuk teman yang pulang Untuk teman yang duduk dan diam dibawah atap kossan. Untuk teman yang mementingkan ipk Untuk teman yang bersikap acuh terhadap masalah negeri. Ketika kami masih berdiri tegak Saat deras hujan menguyuri Berhadapan dengan aparat yang keji Ketika kami masih berteriak dengan tuntutan demokrasi Ketika kami rela menunggu hingga langit gelap dan gas air mata menghampiri Mana solidaritas mu! Mana rasa kebersamaan mu! Mana jiwa mahasiswa mu! Mana raga mu sebagai pemuda-pemudi bangsa! Solidaritas tiada kau genggam Kebersamaan tiada kau pegang Persatuan mahasiswa engkau tak pantas berada dalam lingkaran Bahkan,  gelar mahasiswa tak patut engkau sandang. Untuk mu yang melarang dan mengatakan bahwa ini anarki Untuk mu yang rela membiarkan rezim pengkhiatan bangsa berdiri Untuk mu yang mengacuhkan permasalahan tentang pengkhianat demokrasi Sama saja,  diri mu membiarkan kejahatan raga dan batin di dalam negar...

Suara Hati pemuda-pemudi dan rakyat negeri

Meringis negeri ku Kacau balau Berhamburan masalah Hiruk pikuk demokratis dibatasi Asumsi politisi membinggungkan penghuni negeri Lepas itu,  Sebagian bumi pertiwi Musnah udara bersih Kabut asap melambung tinggi  esak menyiksa paru-paru dalam diri Jika petinggi tak kami percaya lagi Harus dengan apa dan siapa?  kami mengadu dan meluapkan resah hati Situasi perwakilan rakyat Sepertinya Perlahan-perlahan membunuh instansi pemberantas korupsi Tak tau apa yang terjadi! Merevisi secepat kilat Tanpa mendengarkan suara rakyat Kebijakan petinggi seperti ilusi Mengambang dan sepertinya tak peduli #KitaKPK #mahasiswa-mahasiswiIndonesia #pemudapemudiBangsa #BEM/DEMAseluruhIndonesia #literasiUntukNegeri

Masih Bersama Kabut Asap

Lisan ku masih tertutup Mata ku perih Dada ku sesak tertatih Kabut asap masih menyelimuti Gerombalan putih terbang melingkupi Entah!  Apa hendak di perbuat? Malu, untuk menyiratkan doa Entah!  Apa yang hendak di lakukan! Hina,  lisan berucap dan meminta per-kabulan Ketika rakyat tak sepenuhnya percaya pada raja, Ketika rakyat merasa tiada ibah dari petinggi penguasa, Keluh kesah ulur tangan Butuh harapan dan kepastian Berdoa dengan hina Mengadah meminta-minta dengan berdosa Maaf,  ya rabbi Memohon pertolongan karena ulah hamba mu sendiri. Indonesia sedang kronis sebagian Tapi, Rasa perih penyakitnya bukan sebagian Sesak pernafasannya Juga sesak pernafasan bangsa Karena seluruh Indonesia Dibawah langit yang sama. Langit itu tak lagi biru Hanya kabut asap yang mengebu-gebu Setelah ini, Entah? Apa yang akan terjadi terhadap negeri! Terlalu isak penderitaan, Rakyat menjadi korban. TERBUNGKAM. #saveIndonesia #prayforIndones...